Kini dicetak

Ayub 32 FHB Alkitab Hati Bapa™

Diskon 15% untuk pesanan pertama →
Kitab

Sahabat-Sahabat Ayub Terdiam

Ketiga sahabat itu menyerah, dan seorang muda bernama Elihu, yang sejak tadi mendengarkan, meluap: marah kepada Ayub karena membenarkan dirinya sendiri, marah kepada para sahabat karena menyalahkan dia tanpa sebuah jawaban. Hikmat datang dari napas Yang Mahakuasa, katanya, bukan dari uban.

Pasal 32.

Maka ketiga orang itu berhenti menjawab Ayub, karena ia benar menurut pandangannya sendiri. Lalu bangkitlah amarah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram. Amarahnya menyala terhadap Ayub, karena ia membenarkan dirinya sendiri dan bukan Allah. Amarahnya juga menyala terhadap ketiga sahabat Ayub, karena mereka tidak menemukan jawaban, namun tetap mempersalahkan Ayub. Elihu menanti-nanti untuk berbicara kepada Ayub, karena yang lain lebih tua darinya. Tetapi ketika Elihu melihat bahwa ketiga orang itu tidak dapat menjawab apa-apa lagi, menyalalah amarahnya. Maka berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus, katanya, “Aku masih muda usia, dan kamu sudah tua; itulah sebabnya aku menahan diri, takut menyatakan kepadamu apa yang kuketahui. Pikirku, ‘Biarlah usia yang berbicara, dan tahun yang banyak mengajarkan hikmat.’ Tetapi roh yang di dalam manusia, nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi pengertian. Bukan orang yang tua yang bijaksana, bukan pula orang yang lanjut usia yang mengerti apa yang benar. Sebab itu kataku, dengarkanlah aku; aku pun akan menyatakan apa yang kuketahui. Lihatlah, aku menanti-nantikan perkataanmu; aku memasang telinga kepada alasanmu, selama kamu mencari kata-kata yang tepat. Aku memperhatikan kamu dengan saksama; tetapi tidak seorang pun dari kamu dapat membuktikan kesalahan Ayub atau menjawab dalih-dalihnya. Maka janganlah kamu berkata, ‘Kami telah menemukan hikmat; biarlah Allah yang membantah dia, bukan manusia.’ Ayub tidak mengarahkan perkataannya kepadaku, dan aku tidak akan menjawab dia dengan dalih-dalihmu. Mereka tercengang dan tidak dapat menjawab lagi; kata-kata telah lenyap dari mereka. Haruskah aku menunggu, karena mereka membisu, karena mereka berdiri di sana tanpa jawaban? Aku pun hendak menyampaikan bagianku; aku pun akan menyatakan apa yang kuketahui. Sebab aku penuh dengan kata-kata; roh di dalam diriku mendesak aku. Di dalam batinku, aku seperti anggur yang tidak mendapat jalan keluar, seperti kirbat baru yang hendak meletus. Aku harus berbicara supaya merasa lega; aku harus membuka mulutku dan memberi jawaban. Aku tidak akan memihak kepada siapa pun, dan tidak akan menyanjung seorang pun; sebab aku tidak tahu menyanjung—jika demikian, maka Penciptaku akan segera melenyapkan aku.”