Kini dicetak

Kidung Agung 2 FHB Alkitab Hati Bapa™

Diskon 15% untuk pesanan pertama →
Kitab

Bangunlah, Manisku, dan Marilah Pergi

Perempuan itu berbicara, mengenang naungan kekasihnya, ruang perjamuan, lengannya di bawah kepalanya. Lalu ia mengulang panggilan kekasihnya lewat kisi-kisi: musim dingin telah berlalu, buah ara mulai matang, marilah pergi. Dua kali ia memperingatkan putri-putri Yerusalem agar tidak membangunkan cinta sebelum waktunya.

Pasal 2.

Aku bunga mawar dari Saron, bunga bakung di lembah-lembah. Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis. Seperti pohon apel di antara pohon-pohon di hutan, demikianlah kekasihku di antara teruna-teruna. Dengan penuh sukacita aku duduk di bawah naungannya, dan buahnya manis bagi lidahku. Ia membawa aku ke balai perjamuan, dan panji-panjinya di atasku ialah cinta. Kuatkanlah aku dengan kismis, segarkanlah aku dengan buah apel, sebab aku sakit asmara. Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, dan tangan kanannya memeluk aku. Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem, demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: jangan membangkitkan atau menggerakkan cinta sebelum ia menghendakinya.

Suara kekasihku! Ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit. Kekasihku serupa kijang atau anak rusa jantan. Lihatlah, ia berdiri di balik dinding kita, menengok melalui tingkap-tingkap, melihat dari celah-celah kisi. Kekasihku berkata kepadaku: Bangunlah, manisku, jelitaku, dan marilah pergi, sebab musim dingin telah lewat; hujan telah berhenti dan berlalu. Bunga-bunga bermunculan di bumi, waktu untuk bernyanyi telah tiba, dan suara tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mematangkan buahnya, dan pohon-pohon anggur berbunga; semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, dan marilah pergi. Merpatiku, di celah-celah batu karang, di persembunyian lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu, sebab merdu suaramu, dan elok wajahmu. Tangkaplah rubah-rubah itu bagi kami, rubah-rubah kecil yang merusak kebun-kebun anggur, sebab kebun-kebun anggur kami sedang berbunga. Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaannya; ia menggembala di antara bunga bakung. Sampai angin siang berembus dan bayang-bayang menghilang, kembalilah, kekasihku, dan jadilah seperti kijang atau seperti anak rusa jantan di atas gunung-gunung yang terjal.