Baca. Terima. Rekomendasikan.

♥ Ulasan

1 Raja-Raja 19

Kitab

Elia Melarikan Diri Menyelamatkan Nyawanya

Pasal 19.

Ahab menceritakan kepada Izebel segala yang telah dilakukan Elia, dan bagaimana ia telah membunuh semua nabi dengan pedang. Lalu Izebel mengirim seorang utusan kepada Elia, katanya, “Beginilah kiranya para dewa menghukum aku, bahkan lebih lagi, jika besok kira-kira waktu ini aku tidak membuat nyawamu seperti nyawa salah seorang dari nabi-nabi itu.”

Karena takut, bangkitlah Elia dan melarikan diri menyelamatkan nyawanya. Ia sampai di Bersyeba di tanah Yehuda, lalu meninggalkan bujangnya di sana. Ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebatang pohon arar, dan memohon supaya ia mati. Katanya, “Cukuplah sudah, ya Bapaku. Ambillah nyawaku, sebab aku tidak lebih baik dari nenek moyangku.”

Kemudian ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi seorang malaikat menyentuh dia serta berkata, “Bangunlah, makanlah!”

Ketika ia melihat sekelilingnya, tampaklah pada sebelah kepalanya sepotong roti yang dibakar di atas batu-batu panas, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. Malaikat Bapa kita datang untuk kedua kalinya, menyentuh dia serta berkata, “Bangunlah, makanlah! Sebab perjalananmu terlalu jauh bagimu.”

Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu berjalanlah ia empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke Horeb, gunung Bapa kita.

Bisikan Lembut Sang Bapa

Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka datanglah firman Bapa kita kepadanya, demikian, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

Jawabnya, “Aku sangat giat bekerja untuk Bapa dari bala tentara sorga, sebab orang Israel telah meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang. Hanya aku seorang diri yang masih hidup, dan sekarang mereka ingin mencabut nyawaku juga.”

Firman-Nya, “Keluarlah dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan-Ku, sebab sebentar lagi Aku akan lewat.” Maka angin besar lagi kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu di hadapan Bapa kita, tetapi Bapa kita tidak ada dalam angin itu. Sesudah angin itu datanglah gempa, tetapi Bapa kita tidak ada dalam gempa itu.

Sesudah gempa itu datanglah api, tetapi Bapa kita tidak ada dalam api itu. Dan sesudah api itu, terdengarlah bunyi bisikan yang lembut.

Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu keluar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

Jawabnya, “Aku sangat giat bekerja untuk Bapa dari bala tentara sorga, sebab orang Israel telah meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang. Hanya aku seorang diri yang masih hidup, dan sekarang mereka ingin mencabut nyawaku juga.”

Berfirmanlah Bapa kita kepadanya, “Pergilah, kembalilah menurut jalan yang telah kaulalui, ke padang gurun Damsyik. Setiba di sana, urapilah Hazael menjadi raja atas Aram. Juga urapilah Yehu bin Nimsi menjadi raja atas Israel, dan urapilah Elisa bin Safat dari Abel-Mehola menjadi nabi menggantikan engkau. Siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu, dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni setiap lutut yang tidak sujud menyembah Baal, dan setiap mulut yang tidak mencium dia.”

Sang Bapa Memanggil Elisa

Maka pergilah Elia dari sana dan mendapati Elisa bin Safat sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, dan ia sendiri mengemudikan pasangan yang kedua belas. Ketika Elia lewat dari dekatnya, dilemparkannyalah jubahnya kepadanya. Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya, “Biarkanlah aku mencium ayah dan ibuku dahulu untuk mengucapkan selamat tinggal, kemudian aku akan mengikuti engkau.” Jawab Elia, “Kembalilah, sebab apakah yang telah kuperbuat kepadamu?”

Lalu Elisa kembali dari padanya, ia mengambil pasangan lembu itu dan menyembelihnya. Dengan perkakas bajak lembu itu sebagai kayu bakar, dimasaknya daging lembu itu, lalu diberikannya kepada orang-orang, dan mereka pun makan. Sesudah itu bangunlah ia dan mengikuti Elia serta menjadi pelayannya.

A young man reading the Father's Heart Bible (FHB) print edition in a coffee shop Kini dicetak

Komentar

Sebuah pemikiran, pertanyaan, atau kata yang dibangkitkan pasal ini dalam diri Anda — bagikan di sini. Setiap komentar menambahkan nama Anda ke dinding kontributor.

Membaca, mendengarkan, menyalin, dan membagikan terbuka untuk semua — tanpa akun. Berkomentar, menyoroti, dan menyimpan tempat Anda tersedia dengan akun gratis, dan setiap komentar menambahkan nama Anda ke dinding kontributor.

Bergabunglah dengan keluarga — gratis →
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menambahkan suara Anda.