Kini dicetak

Ayub 6 FHB Alkitab Hati Bapa™

Diskon 15% untuk pesanan pertama →
Kitab

Ayub Menjawab dari Timbunan Abu

Ayub berkata bahwa jika kepedihannya ditimbang, beratnya akan melebihi pasir laut, dan bahwa anak panah Yang Mahakuasa ada di dalam dirinya. Ia berharap Allah menyelesaikan saja pekerjaan itu. Lebih buruk lagi, sahabat-sahabatnya mengecewakan dia seperti alur sungai di padang gurun yang kering ketika musafir yang haus tiba.

Pasal 6.

Lalu Ayub menjawab: “Ah, sekiranya kepedihanku dapat ditimbang dan segala malapetakaku ditaruh bersama-sama pada neraca! Tentulah beratnya melebihi pasir di laut—itulah sebabnya kata-kataku gegabah. Sebab anak-anak panah Yang Mahakuasa menancap dalam diriku; rohku meminum racunnya; kengerian-kengerian Allah berbaris melawan aku. Meringkikkah keledai liar di samping rumputnya, atau melenguhkah lembu di samping makanannya? Dapatkah makanan hambar dimakan tanpa garam, atau adakah rasa pada getah pohon mallow? a a v6 Mallow adalah sejenis tumbuhan liar; getahnya yang berair terasa tawar dan tidak menggugah selera—gambaran makanan yang tanpa gizi maupun daya tarik. Jiwaku menolak untuk menyentuhnya; hal-hal semacam itu bagiku makanan yang menjijikkan. Ah, sekiranya permohonanku dikabulkan, dan Allah memberikan apa yang kurindukan, yaitu bahwa Allah berkenan meremukkan aku, mengulurkan tangan-Nya dan memutuskan hidupku! Itu masih akan menjadi penghiburanku—aku akan melonjak kegirangan bahkan di tengah penderitaan yang tak kenal belas kasihan—bahwa aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus. Apa kekuatanku, sehingga aku harus terus berharap? Dan kesudahan apa yang menantiku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku kekuatan batu? Apakah dagingku terbuat dari tembaga? Tidak adakah lagi pertolongan di dalam diriku, sekarang setelah pengertian yang sehat terusir dariku? Siapa yang menahan kebaikan dari seorang sahabat, ia meninggalkan rasa takut akan Yang Mahakuasa. Tetapi saudara-saudaraku tidak dapat dipercaya seperti alur sungai di padang gurun, seperti aliran anak-anak sungai yang meluap lalu mengering, yang keruh oleh es yang mencair, yang membengkak oleh salju yang tersembunyi, tetapi pada musim kemarau mereka lenyap; ketika panas datang, mereka menghilang dari tempatnya. Kafilah-kafilah menyimpang dari jalannya; mereka naik ke padang tandus lalu binasa. Kafilah-kafilah dari Tema mencari air; para pengembara dari Syeba mengharapkannya. Mereka malu karena telah percaya; mereka sampai ke tempat itu dan menjadi kecewa. Sekarang kamu pun telah menjadi tidak berarti; kamu melihat sesuatu yang mengerikan dan menjadi takut. Pernahkah aku berkata, ‘Berilah aku sesuatu’? Atau, ‘Serahkanlah suap untukku dari kekayaanmu’? Atau, ‘Luputkanlah aku dari tangan musuh’? Atau, ‘Tebuslah aku dari cengkeraman orang yang kejam’? Ajarilah aku, maka aku akan diam; tunjukkanlah kepadaku di mana aku telah tersesat. Betapa menyakitkannya kata-kata yang jujur! Tetapi apa sebenarnya yang dibuktikan oleh teguranmu? Apakah kamu bermaksud mengoreksi sekadar kata-kata, dan menganggap ucapan orang yang putus asa sebagai angin? Bahkan atas seorang yatim pun kamu akan membuang undi, dan memperdagangkan sahabatmu sendiri. Tetapi sekarang, pandanglah aku—aku tidak akan pernah berdusta di hadapanmu. Berbaliklah, aku mohon; janganlah ada ketidakadilan. Berbaliklah—kebenaranku masih tetap teguh. Adakah kecurangan pada lidahku? Tidak dapatkah mulutku membedakan apa yang membinasakan?”